ac.id/wp-content/uploads/2024/12/fgd-madilog.jpg” alt=”” width=”553″ height=”340″ class=”aligncenter size-full wp-image-2678″ />
Malang, 7 April 2024 – Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan (HMP-IP) Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang kembali menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang kali ini mengupas buku Madilog karya Tan Malaka. Acara ini berlangsung di Ruang C3-2B Gedung B UNIRA Malang dan dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2021, 2022, dan 2023. Diskusi dimulai pukul 11.00 WIB dan berlangsung hingga selesai, dengan suasana yang penuh semangat intelektual.
Madilog: Karya Filosofis dan Revolusioner
Buku Madilog, singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, merupakan salah satu karya besar Tan Malaka yang dianggap sebagai magnum opus-nya. Diterbitkan oleh Narasi dan sudah mencapai cetakan ke-13 pada tahun 2019, buku ini berisi 560 halaman yang mendalami ilmu sains, biologi, fisika, dan kimia melalui pendekatan filosofis. Dalam FGD ini, peserta diajak untuk mengeksplorasi ide-ide Tan Malaka yang bertujuan membebaskan masyarakat Indonesia dari belenggu pemikiran mistik dan irasional.
Wahyuni Martha, Kepala Bidang PSDM yang membuka acara, menyatakan pentingnya memahami karya Tan Malaka. “Diskusi ini bukan sekadar memahami sejarah, tetapi juga bagaimana kita menerapkan logika dalam menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Dalam paparannya, Wilga sultani pemateri , menjelaskan bahwa latar belakang penulisan Madilog adalah keinginan Tan Malaka untuk membebaskan rakyat Indonesia dari pemikiran mistik yang telah mengakar. “Tan Malaka menekankan bahwa sebelum kita merdeka secara fisik, kita harus merdeka secara logika. Ia mengajak masyarakat meninggalkan kepercayaan pada hal-hal seperti pesugihan, dukun, dan ilmu gaib,” jelas wilga.
Kutipan terkenal Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk,” menjadi inti diskusi yang menggugah semangat mahasiswa untuk terus berpikir kritis dan rasional. Tan Malaka berargumen bahwa logika adalah barang baru yang sangat diperlukan di Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan dan membangun masa depan yang lebih rasional.
Selama diskusi, peserta FGD aktif mengajukan pertanyaan dan memberikan pandangan mereka. Salah satu mahasiswa, farhan, dari angkatan 2022, bertanya, “Apakah pemikiran Tan Malaka dalam Madilog masih relevan di era digital saat ini, mengingat kita sudah jauh dari kepercayaan mistik yang dulu diceritakan?”
Wilga sultani menjawab dengan menekankan bahwa meskipun dunia modern telah maju, tantangan irasionalitas tetap ada dalam bentuk baru. “Hari ini, kita menghadapi hoaks, teori konspirasi, dan fenomena post-truth. Logika yang diajarkan Tan Malaka masih sangat relevan untuk melawan kebingungan informasi ini,” jawabnya.
Selain itu, hamzah dari angkatan 2021 menambahkan, “Kita harus melihat Madilog sebagai pedoman berpikir ilmiah yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama sebagai mahasiswa yang dituntut untuk kritis.”
Dalam sesi refleksi, peserta diajak untuk mengaitkan gagasan Madilog dengan peran mereka sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Ella Fadzia Fauzi, Bupati HMP-IP, menegaskan bahwa pemikiran kritis sangat diperlukan dalam pemerintahan. “Sebagai calon pemimpin masa depan, kita harus mampu berpikir rasional dan logis dalam mengambil keputusan. Buku ini memberikan kita kerangka berpikir yang kuat untuk menghadapi tantangan pemerintahan yang kompleks,” ujarnya.
Mahasiswa juga diingatkan untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, terutama dalam mengkritisi kebijakan publik dan fenomena sosial. Diskusi berlanjut dengan membahas bagaimana materialisme, dialektika, dan logika dapat diaplikasikan dalam konteks kebijakan pemerintahan yang adil dan demokratis.
Acara ditutup dengan kesimpulan bahwa pemikiran Tan Malaka dalam Madilog masih sangat relevan dalam membentuk generasi muda yang kritis, rasional, dan berintegritas. Para peserta FGD diharapkan dapat menerapkan pemikiran logis dalam kehidupan akademik dan sosial mereka.
Dalam penutupan, Wahyuni Martha kembali mengingatkan pentingnya semangat “terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.” Ia menekankan bahwa setiap kesulitan yang dihadapi mahasiswa adalah proses pembentukan karakter yang akan membangun pribadi tangguh dan berpikir logis.
FGD yang mengupas Madilog karya Tan Malaka ini memberikan wawasan berharga bagi mahasiswa Ilmu Pemerintahan UNIRA Malang. Diskusi ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang sejarah dan filsafat, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan dalam dunia pemerintahan dan masyarakat modern.
Dengan semangat Madilog, mahasiswa HMP-IP diharapkan terus berkembang menjadi individu yang rasional, kritis, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.